Selasa, 04 Desember 2012

Pendidikan Anak Usia Dini

METODE BERCERITA PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Sebuah cerita atau dongeng anak umumnya menyajikan alur dan tutur bahasa yang ringan dan menyenangkan, sehingga mudah dipahami anak. Gaya bercerita, intonasi, ekspresi dan pelafalan yang jelas merupakan bagian penting dalam bercerita yang dapat memudahkan penyerapan dan pemahaman anak akan nilai yang terkandung dalam cerita atau dongeng tersebut, serta berkembangnya imajinasi anak. Efek fun dan learning yang terkandung dalam sebuah cerita atau dongeng merupakan energi, gambaran kekuatan sebuah cerita. Di samping itu, cara bercerita kita sebagai orang tua tentu lebih mengentalkan efek tersebut agar lebih disukai anak-anak.  Bagaimana kita bercerita dan kekuatan apa yang terkandung dalam sebuah cerita hingga bisa memberikan manfaat bagi kepribadian anak?

A.    Pengertian dan Tujuan Metode Bercerita
Metode bercerita adalah cara bertutur kata dan menyampaikan cerita atau memberikan penerangan kepada anak secara lisan.
Adapun tujuan digunakannnya metode ini adalah:
a.       Melatih daya tangkap anak.
b.      Melatih daya fikir.
c.       Melatih daya konsentrasi.
d.      Membantu perkembangan fantasi/imajinasi anak.
e.       Menciptakan suasana menyenangkan dan akrab di dalam kelas.
Metode ini dapat digunakan apabila guru hendak memperkenalkan hal-hal yang baru kepada anak. Umumnya diberikan pada waktu kegiatan penutup.
B.     Teknik Bercerita
Berikut ini ada beberapa teknik atau cara bercerita yang bisa menjadi pengetahuan dasar kita bercerita atau mendongeng kepada anak-anak kita.
  • Banyak membaca dari buku-buku cerita atau dongeng yang benar-benar sesuai untuk anak-anak, serta banyak membaca dari pengalaman atau kejadian sehari-hari yang pantas diberikan kepada anak-anak. Banyak membaca akan memperkaya “bank” cerita kita, sehingga cerita yang kita bacakan lebih variatif dan tidak membuat anak bosan.
  • Biasakan untuk ngobrol dengan anak karena dengan mengobrol kita bisa mengetahui dan memahami gaya bahasa anak kita, istilah yang dia gunakan, serta sejauh mana pemahamannya akan sesuatu. Dengan menaggapai obrolannya, ceritanya, pembicaraannya, kita jadi lebih paham apa yang ia sukai dan ia tidak sukai, sehingga memudahkan kita bercerita kepadanya. Kemauan mendengar merupakan realisasi dari cinta dan kasih sayang kita kepadanya.
  • Berikan penekanan pada dialog atau kalimat tertentu dalam cerita yang kita bacakan atau kita tuturkan, kemudian lihat reaksi anak. Ini untuk mengetahui apakah cerita kita menarik hatinya atau tidak, sehingga kita bisa melanjutkannya atau menggantinya dengan cerita yang lain.
  • Ekspresikan ungkapan emosi dalam cerita, seperti marah, sakit, terkejut, bahagia, gembira atau sedih agar anak mengenal dan memahami bentuk-bentuk emosi. Bila perlu sertakan benda-benda tambahan seperti boneka, bunga atau benda lain yang tidak membahayakan.
  • Berceritalah pada waktu yang tepat, yaitu di waktu anak kita bisa mendengarkan dengan baik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam cerita bisa diserap dengan baik.
Cara bercerita atau mendongeng erat kaitannya dengan kekuatan sebuah cerita dalam membangun kepribadian anak. Ada beberapa unsur cerita yang menjadi kekuatan cerita tersebut. Kekuatan ini berkaitan dengan isi pesan dan sifat cerita atau dongeng,  serta dampak yang ditimbulkannya, yaitu :
  • Sarat nuansa hiburan yang mendidik dan keratif bagi anak-anak, sehingga anak merasa senang dan terhibur.
  • Mengandung pesan moral yang dalam dan komprehensif, sehingga cerita bisa dijadikan cara mendidik yang tanpa disadari anak.
  • Adanya interaksi langsung antara anak dengan orangtuanya, sehingga dapat mempererat ikatan batin dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak menjelang dewasa.
  • Sebuah cerita biasanya membuat penasaran, sehingga merangsang rasa ingin tahu anak akan kelanjutannya dan akhir ceritanya.
  • Dongeng atau cerita merupakan aktivitas rileks yang memang memiliki potensi konstruktif untuk mendukung tumbuhkembangnya mental dan kepribadian anak, bahkan memberikan efek menidurkan anak.
  • Membentuk visualisasi anak dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut, sehingga dalam bisa melatih kreativitas anak.
Kekuatan cerita harus didukung dengan kemampuan dan cara kita bercerita, serta jenis cerita yang kita pilih, sehingga bisa bermanfaat dalam membangun mental dan kepribadian anak. Sejatinya, ada makna di balik setiap cerita.

C.       Bentuk-bentuk Bercerita
Setidaknya bentuk bercerita dapat dibagi dua, yaitu:
1.      Bercerita tanpa alat peraga
2.      Bercerita dengan alat peraga tak langsung, yang terbagi antara lain:
-       Bercerita dengan benda tiruan (yang sesuai/persis dengan asli)
-       Bercerita dengan menggunakan gambar-gambar.
-       Bercerita dengan menggunakan papan planel.
-       Story reading.
-       Sandiwara boneka.

1.   BERCERITA TANPA ALAT PERAGA
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
  •  Mimik dan pantomimic jangan terlalu realistis.
  • Intonasi suara.
  •  Posisi duduk anak, tiap anak dapat melihat guru (kontak mata).
  • Pada bercerita, susunan cerita tidak terganggu teguran terhadap anak  
  • Jika ada anak yang tidak dapat diam, sebaiknya didudukan dekat guru, sehingga mudah menegur dengan hanya menyentuhnya saja.
2. BERCERITA DENGAN ALAT PERAGA LANGSUNG
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Ø  Guru memberikan pendahuluan dengan membicarakan alat peraga (memberi penerangan lebih dulu mengenai objek yang akan diceritakan).
Ø  Merapikan alat peraga/menyimpan.
Ø  Mula cerita.
Ø  Isi cerita mengandung beberapa unsur yang sudah disebut pada pendahuluan.
Ø  Mimik, pantomimic, intonasi suara dan dialog menarik.
Hal-hal tersebut di atas perlu juga untuk cerita dengan alat peraga tiruan maupun gambar lepas.

3.   BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN GAMBAR-GAMBAR DALAM BUKU
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
·         Alat peraga berupa gambar dalam satu buku merupakan gambar seri.
·         Sambil bercerita guru memperlihatkan gambar satu persatu sesuai dengan bagian yang sedang diceritakan.
·         Tiap cerita guru, ditunda untuk menjelaskan gambar. Hal itu agar dilakukan selancar mungkin, sehingga anak merasa ceritanya diputus-putus.
·         Gambar hendaknya memenuhi persyaratan.

4.      MEMBACAKAN CERITA ATAU STORY READING
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
  • Alat: buku cerita bergambar. 
  •  Guru memberikan pendahuluan dengan memperlihatkan gambar sampul sambil membicarakan sepintas tentang isi gambar.
  • Kemudian guru membuka buku dan mulai membacakan ceritanya sambil memperlihatkan gambar pada anak-anak.
  • Guru tidak bebas melakukan gerak gerik.
  • Tekanan nada suara dan mimik guru menjadi alat utama.
  • Anak hendaknya diberi cukup waktu, gambar, sebelum dibalik.
  • Posisi duduk harus diatur sedemikian rupa, dapat di luar atau di dalam kelas. 
  • Guru sebaiknya hafal ceritanya, sehingga tidak harus membolak-balik atau merubah posisi buku untuk membaca teksnya.
  • Buku gambar harus memenuhi persyaratan.
5.      SANDIWARA BONEKA
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
  • Jumlah boneka disesuaikan dengan usia anak.
  • Anak memerlukan persiapan untuk melihat dan menikmati sandiwara boneka, misalnya dengan memainkan satu boneka tanpa panggung tanpa cerita tertentu kemudian meningkat pada pelaksanaan yang lebih sulit dengan jumlah boneka yang lebih banyak, percakapan lebih panjang, yang merupakan sandiwara boneka yang sebenarnya.
6.      BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN PAPAN PLANEL
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
  • Alat : papan planel dan guntingan gambar yang ada dalam cerita.
  • Sambil bercerita guru meletakan guntingan gambar tersebut pada papan planel (sambil bercerita guru membuat adegan-adegan)
  • Supaya tidak membingungkan anak diusahakan tidak terlalu banyak adegan sekaligus di papan planel.
  • Gerak-gerik pada waktu membuat atau mengganti adegan diusahakan tidak mengganggu konsentrasi anak atau guru harus tenang.
  • Pergantian adegan jangan terlalu sering.
7.      BERCAKAP-CAKAP BEBAS
  • Tidak perlu alat pergara.
  • Tidak ada topic tertentu yang akan dipercakapkan.
  • Guru memberi pertanyaan yang merangsang anak untuk bercakap-cakap.
  • Kemungkinan percakapan berpindah-pindah dari objek satu ke objek yang lain.
  • Dimaksudkan untuk memberi kesempatan anak untuk berkespresi secara bebas tapi tertib.
  • Ucapan-ucapan yang salah diperbaiki guru secara bijaksana.
8.      LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN BERCAKAP-CAKAP DENGAN GAMBAR SERI
  • Guru mengatur posisi duduk anak kemudian menjelaskan apa yang akan dilakukan.
  • Menyiapkan gambar seri dan memperlihatkan kepada anak seluruh gambar.
  • Guru merangsang percakapan anak dengan pertanyaan-pertanyaan secukupnya. 
  •  Anak aktif mencari hubungan antara gambar-gambar dan membuat kesimpulan dan sedikit mungkin dibantu oleh guru.


PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN MELALUI BERCERITA
A.    Rasional Strategi Pembelajaran melalui Bercerita
Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak dipergunakan di Taman Kanak-kanak. Metode bercerita merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak TK.
Penggunaan bercerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak haruslah memperhatikan hal-hal berikut:
  • Isi cerita harus terkait dengan dunia kehidupan anak TK.
  • Kegiatan bercerita diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan sesuai dengan dunia kehidupan anak yang penuh suka cita
  • Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak TK yang bersifat unik dan menarik.
Beberapa macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain guru dapat membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan.
Bercerita sebaiknya dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan yang berlangsung sehingga akan berjalan lebih efektif. Selain itu tempat duduk pun harus diatur sedemikian rupa, misalnya berbentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang lebih efektif.

B.     Prosedur Penerapan Pembelajaran melalui Bercerita
Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak serta pencapaian tujuan pendidikan. Sebelum melaksanakan kegiatan bercerita guru terlebih dahulu harus merancang kegiatan bercerita berupa langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistematis.
Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:
  • Menetapkan tujuan dan tema cerita.
  • Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih.
  • Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
  • Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita.
  • mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita;
  • mengatur tempat duduk;
  • melaksanakan kegiatan pembukaan;
  • mengembangkan cerita;
  • menetapkan teknik bertutur;
  • mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
  • Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.
C.     Penerapan Strategi Pembelajaran melalui Bercerita
Penerapan strategi pembelajaran melalui bercerita mengacu pada prosedur pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya, yaitu:
  • Menetapkan tujuan dan tema cerita.
  • Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih.
  • Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
  • Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita:
  • mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita;
  • mengatur tempat duduk;
  • melaksanakan kegiatan pembukaan;
  • mengembangkan cerita;
  • menetapkan teknik bertutur;
  • mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
  • Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan bercerita serta tema yang dipilih oleh guru menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan lainnya. Guru memiliki kebebasan untuk menentukan bentuk cerita yang dipilih, sepanjang bisa menggambarkan isi cerita dengan baik. Bahan dan alat yang dipergunakan dalam kegiatan bercerita sangat bergantung kepada bentuk cerita yang dipilih sebelumnya.
Pengaturan tempat duduk, merupakan hal yang patut mendapat perhatian karena pengaturan yang baik membuat anak merasa nyaman dan dapat mengikuti cerita di samping teknik bercerita, dan teknik.


Strategi Pembelajaran Melalui bercerita
a.         Rasional strategi pembelajaran melalui bercerita.

Pencapaian tujuan pendidikan Taman Kanak-kanak dapat ditempuh dengan strategi pembelajaran melalui bercerita. Masitoh dkk. (2005: 10.6) mengidentifikasi manfaat cerita bagi anak TK, yaitu sebagai berikut.
·       Bagi anak TK mendengarkan cerita yang menarik dan dekat dengan lingkungannya merupakan kegiatan yang mengasyikkan.
·       Guru dapat memanfaatkan kegiatan bercerita untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak.
·       Kegiatan bercerita juga memberikan sejumlah pengetahuan social, nilai-nilai moral dan keagamaan.
·       Pembelajaran dengan bercerita memberikan memberikan pengalaman belajar untuk mendengarkan.
·       Dengan dengan mendengarkan cerita anak dimungkinkan untk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
·       Membantu anak untuk membangun bermacam-macam peran yang mungkin dipilih anak, dan bermacam layanan jasa yang ingin disumbangkan anak kepada masyarakat.

b.   Sintaks pembelajaran melalui bercerita

Strategi pembelajaran melalui bercerita terdiri dari 5 langkah. Langkah-langkah dimaksud adalah sebagai berikut.
1) Menetapkan tujuan dan tema cerita.
2) Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih, misalnya bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita, menggunakan gambar-gambar, menggunakan papan flannel, dst.
3) Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita sesuai dengan bentuk bercerita yang dipilih.

4)  Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita, yang terdiri dari:
·         menyampaikan tujuan dan tema cerita,
·         mengatur tempat duduk,
·         melaksanaan kegiatan pembukaan,
·         mengembangkan cerita,
·         menetapkan teknik bertutur,
·         mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
5)  Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita
Untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran dilaksanakan penilaian dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan isi cerita untuk mengembangkan pemahaman anak aka isi cerita yang telah didengarkan.



















0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates